MPASI merupakan makanan yang mudah dikonsumsi dan dicerna oleh bayi. MPASI mulai diperkenalkan kepada bayi pada usia 6 bulan dengan berbagai tekstur dan cita rasa makanan melalui pemberian makanan pendamping.
Kebingungan yang sering muncul pada ibu adalah, apakah penggunaan gula dan garam pada MPASI diperbolehkan?
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang mengatur terkait pesan gizi seimbang untuk anak usia 6-24 bulan, yakni MPASI yang baik tidak menggunakan gula dan garam tambahan, penyedap rasa, pewarna, dan pengawet.
“Perlu diingat, kandungan gula juga terdapat dalam makanan lain yang mengandung karbohidrat sederhana, sehingga penambahan gula pada MPASI tidak diperlukan. Untuk meningkatkan rasa, dapat digunakan bumbu tambahan lain, misalnya tomat, bawang, jahe, atau rempah-rempah alami lainnya,” sambung Daisy.
Mengenai penggunaan garam, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia menyebutkan bahwa kebutuhan natrium harian untuk anak usia 6-12 bulan adalah 370 mg per hari, sedangkan anak usia 1-3 tahun adalah 800 mg per hari. “Jadi, kebutuhan garam pada anak usia 6-23 bulan kurang dari 1 gram per hari,” lanjut Lovely Daisy.
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Lovely Daisy, MKM, menjelaskan bahwa penggunaan gula dan garam untuk MPASI pada bayi harus dibatasi. “Anjuran sesuai ‘Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak’ yang diterbitkan Kemenkes tahun 2020, penggunaan gula dan garam dalam MPASI harus dibatasi,” jelas Daisy di Jakarta, dalam rilis Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.
“Asupan gula dalam bentuk gula tambahan dibatasi di bawah 5 persen total kalori untuk anak di bawah usia 2 tahun. Asupan gula yang disarankan berupa gula alamiah seperti buah segar, bukan jus buah atau produk dengan tambahan pemanis," ujarnya lagi.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang mengatur terkait pesan gizi seimbang untuk anak usia 6-24 bulan, yakni MPASI yang baik tidak menggunakan gula dan garam tambahan, penyedap rasa, pewarna, dan pengawet. Perlu dingat bahwa kandungan gula juga terdapat dalam makanan yang mengandung karbohidrat sehingga penambahan gula tidak diperlukan.
Mengapa Gula dan Garam Harus Dibatasi pada MPASI?
Pakar kesehatan anak, termasuk yang berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan berbagai institusi kesehatan lainnya, menyarankan agar penambahan gula dan garam pada MPASI bayi harus sangat dibatasi atau bahkan dihindari sama sekali pada usia awal pengenalan makanan. Hal ini penting untuk mencegah beberapa risiko kesehatan jangka panjang, seperti obesitas, hipertensi, dan gangguan fungsi ginjal.
1. Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Menurut dr. Widyawati dari Kompas Health, konsumsi garam dan gula berlebih pada bayi dapat meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), obesitas, dan gangguan metabolik. Bayi memiliki ginjal yang belum berkembang sempurna, sehingga beban garam berlebih bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Sementara itu, terlalu banyak gula bisa menyebabkan ketergantungan pada rasa manis yang dapat berlanjut hingga dewasa.
2. Perkembangan Rasa dan Kebiasaan Makan
Pengenalan makanan pada bayi sebaiknya dilakukan secara alami tanpa menambahkan rasa yang kuat, seperti gula atau garam. MPASI seharusnya mengandung bahan alami yang kaya akan nutrisi, seperti sayur, buah, dan bahan makanan lokal yang mengandung banyak rempah alami. Ini bertujuan agar bayi belajar menikmati rasa alami dari makanan dan tidak bergantung pada rasa yang sudah dimodifikasi.
3. Bayi Tidak Membutuhkan Garam atau Gula pada MPASI
Menurut banyak pakar, pada usia enam bulan, kebutuhan gizi bayi sudah dapat dipenuhi oleh ASI dan makanan pendamping yang sudah diperkaya dengan berbagai macam bahan alami. MPASI pada usia tersebut bertujuan untuk memperkenalkan tekstur dan rasa makanan baru, bukan untuk menambah rasa yang kuat. Oleh karena itu, penambahan gula dan garam tidak dibutuhkan dan bisa berisiko bagi kesehatan bayi dalam jangka panjang.
Apa yang Bisa Digunakan Sebagai Pengganti Garam dan Gula?
Alih-alih menggunakan gula atau garam, banyak ahli kesehatan menyarankan penggunaan bahan alami untuk menambah cita rasa pada MPASI. Rempah-rempah seperti kunyit, jahe, kayu manis, atau daun kemangi bisa menjadi pilihan untuk memberikan rasa yang lezat tanpa menambah gula atau garam. Selain itu, teknik memasak seperti merebus atau memanggang juga dapat menjaga cita rasa alami bahan makanan.
Penelitian dan Rekomendasi dari Ahli Kesehatan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menambah gula dan garam pada MPASI dapat berisiko meningkatkan angka prevalensi obesitas di usia dewasa. Hal ini disampaikan oleh dr. Agus dari Dinas Kesehatan Aceh, yang menekankan bahwa MPASI untuk bayi harus dipersiapkan dengan memperhatikan asupan gizi yang seimbang, tanpa perlu ada tambahan yang berisiko. Rempah-rempah alami, dengan kandungan antioksidan dan zat anti-inflamasi, justru lebih disarankan.
Sementara itu, klinik kesehatan anak di Indonesia juga mendorong penggunaan bahan makanan yang beragam dan kaya nutrisi, yang dapat diproses menjadi makanan bayi yang mudah dicerna. Dalam hal ini, penting untuk memperkenalkan berbagai rasa alami dari bahan pangan lokal seperti singkong, ubi, atau sayuran hijau.
Penambahan gula dan garam pada MPASI bayi bukan hanya tidak perlu, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan jangka panjang bayi. Sebagai orang tua, penting untuk memperkenalkan MPASI yang sehat dengan memanfaatkan rempah-rempah alami, yang tidak hanya menambah rasa tetapi juga memiliki manfaat kesehatan. Menjaga pola makan sehat sejak dini dapat membantu bayi tumbuh dengan baik dan menghindari risiko penyakit terkait dengan konsumsi gula dan garam berlebih.


0 Komentar