CERITA ANAK PESAKITAN


CERITA ANAK PESAKITAN

Tahun 1994, bulan Desember , tanggal 26 malam. Di salah satu rumah sakit di Semarang. Terdengar tangisan bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Sambil memegang tangan ibunya, ayahnya tersenyum bahagia. Suasana bahagia menyelimuti keluarga itu. Keesokan harinya kerabat, teman, dan saudara-saudara jauh menjenguk ke rumah sakit, mereka juga merasa bahagia.
Namun keesikan harinya puku 16.15 keadaan sang bayi mejadi lemah. Sontak hal ini membuat semua orang yang tadinya bahagia menjadi cemas dan khawatir. Sang bayi segera mendapatkan perawatan. Bayi tersebut dirawat kurang lebih tiga hari. Dia di diagnose menderita lemah jantung.
Setelah beberapa hari dirawat, bayi dan ibunya diperbolehkan pulang. Mereka pulang ke kampung halaman sang ayah yag berada di lerang gunung Merbabu, daerah Pantaran, Kembang, Ampel. Adat desa setempatpun dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah dan sebagai doa agar sang anak bisa tumbuh sehat dan menjadi anak seperti yng di dambakan kedua orang tuanya.
Setelah upacara adat selesai, ayah dari sang bayi kembali ke Semarang untuk bekerja. Sang ayah sangat termotivasi dengan kelahiran anak pertamanya. Dia begitu giat untuk bekerja. Namun baru 2 hari bekerja dia di jemput kakaknya untuk segera pulang karena si kecil baru sakit dan istrinya selelu menangis melihat kondisi anaknya tersebut.

                             bersambung >>

Posting Komentar

0 Komentar